Halo, perkenalkan saya Artha
Simanjuntak (21S17014) salah satu Mahasiswa Institut Teknologi Del angkatan 2017 Program
Studi Manajemen Rekayasa. Saat ini, salah satu mata kuliah di semester 7 yang
saya ambil adalah mata kuliah Perancangan Logistik Berbasis Geospasial. Berikut
adalah artikel terkait penanganan COVID-19 melalui peran Geospasial khususnya
di Indonesia. Semoga bermanfaat dan selamat membaca.
Tentunya
sebagian besar sudah pernah mendengar kata logistik bukan? Nah, istilah
logistik berasal dari bahasa Yunani yakni Logos yang berarti “rasio, kata,
kalkulasi, alasan, pembicaraan, dan orasi”. Logistik adalah serangkaian proses
yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan terhadap
suatu proses perpindahan baik barang/jasa, energi ataupun sumber daya yang lain
dari tempat awal menuju tempat tujuan. Logistik mencakup integrasi informasi,
transportasi, inventori, pergudangan, reverse
logistics dan pemaketan. Dalam logistik tersebut terdapat 3 aliran yang
harus dikelola yaitu aliran material, informasi, dan keuangan. Contohnya dalam
bidang kesehatan, logistik berperan dalam penyediaan obat dan distribusi
fasilitas maupun tenaga medis. Adapun contoh lainnya adalah logistik di dalam
sebuah pabrik atau perusahaan. Perusahaan yang memproduksi barang umumnya
mempunyai fungsi utama yaitu produksi dan pemasaran, produksi berhubungan
dengan persediaan bahan baku, penyimpanan, serta pemeliharaan alat-alat
produksi guna menunjang berlangsungnya kegiatan produksi. Sementara dalam hal
pemasaran/distribusi logistik berkaitan dengan fungsi penyimpanan barang dan
menyalurkannya kepada konsumen.
Lalu,
apakah Anda mengetahui tentang Geospasial? Menurut Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2011, Geospasial atau ruang kebumian adalah aspek keruangan yang menunjukkan
lokasi, letak, dan posisi suatu objek atau kejadian yang berada di bawah, pada,
atau di atas permukaan bumi yang dinyatakan dalam sistem koordinat tertentu. Ketersediaan
informasi Geospasial yang akurat akan memberikan keputusan yang tepat, efisien,
efektif dan komunikatif. Untuk mendapat informasi yang tepat maka dibutuhkan
data-data yang akurat. Informasi terkait dengan jenis data Geospasial diantaranya
dapat digunakan dalam beberapa hal berikut.
a. Membantu dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA)
b. Pembuatan peta
c. Penyusunan tata ruang
d. Perancangan logistik
e. Menentukan garis batas wilayah, pertahanan keamanan, dan pertanahaan
f. Menentukan garis pantai hipsografi perairan
Seiring
dengan perkembangan waktu, teknologi dalam Geospasial terus mengalami peningkatan.
Misalnya, teknologi radargrammetery dan
Interferometry Synthetic Aperture Radar (InSAR)
untuk merancang data model ketinggian (DEM) dengan tingkat keakuratan yang
tinggi. Teknologi Geospasial juga dapat digunakan pada bidang logistik untuk
membantu penanganan sebuah bencana, seperti tsunami, banjir, gempa bumi, erupsi
gunung berapi, dan terkai dengan pandemi COVID-19.
Apakah
COVID-19 itu? COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis
coronavirus yang baru ditemukan. Infeksi
virus Corona disebut COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) dan pertama kali
ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. COVID-19 ini sekarang
menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Gejala-gejala
COVID-19 yang paling umum adalah demam, batuk kering, dan rasa lelah. Gejala
lainnya yang lebih jarang dan mungkin dialami beberapa pasien meliputi rasa
nyeri dan sakit, hidung tersumbat, sakit kepala, konjungtivitis, sakit
tenggorokan, diare, kehilangan indera rasa atau penciuman, ruam pada kulit,
atau perubahan warna jari tangan atau kaki. Gejala-gejala yang dialami biasanya
bersifat ringan dan muncul secara bertahap. Virus ini menular dengan sangat
cepat dan telah menyebar ke hampir semua negara, termasuk Indonesia, hanya
dalam waktu beberapa bulan.
Penggunaan
teknologi geospasial ini dirasa cukup efektif jika data yang diperoleh
merupakan data yang akurat. Untuk mendapat data yang akurat dibutuhkan kerja
sama yang baik antara instansi kesehatan yang menangani virus ini dan
pemerintah setempat. Hal ini bertujuan agar data yang diolah dapat
dijadikan sebuah informasi yang bermanfaat bagi masyarakat umum. Tidak hanya
data jumlah kasus yang terjadi, data masyarakat yang mengalami dampak akibat
adanya virus ini, data lembaga kesehatan, data daerah yang terdapat virus akan
tersedia dengan adanya penerapan model menggunakan teknologi informasi
geospasial ini. Dengan informasi yang tersedia akan mempermudah lembaga-lembaga
dalam proses memberikan bantuan dan tentu akan tepat sasaran. Bagi layanan
kesehatan publik akan terbantu karena pengambil keputusan akan mengetahui
layanan publik kesehatan mana yang membutuhkan fasilitas dalam penanganan virus
ini. Bagi pemerintah juga akan dipermudah dalam hal proses pengambilan
keputusan yang tepat.
Data
Satuan Tugas (Satgas) dalam penanganan COVID-19 menunjukkan dalam 24 jam terakhir terdapat
123.636 kasus aktif COVID-19 di Tanah Air. Jumlah tersebut adalah 14,8 persen
dari total jumlah kasus COVID-19 yang terkonfirmasi. Jumlahnya diketahui dari
pengurangan jumlah total pasien terinfeksi COVID-19 dengan jumlah total pasien
sembuh dan meninggal dunia. Data Satgas menunjukkan, total kasus COVID-19 di
Tanah Air saat ini mencapai 836.718. Jumlah tersebut didapatkan setelah ada
penambahan kasus sebanyak 8.692. Sementara itu, jumlah total kasus sembuh
terdapat 688.739 setelah bertambah 7.715 orang dan jumlah total meninggal dunia
sebanyak 24.343 setelah bertambah 214 orang. Adapun COVID-19 saat ini sudah
tersebar di 510 dari 514 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Dalam membantu penanganan
COVID-19 di Indonesia, informasi dan teknologi Geospasial beperan sebagai
sumber data dari Strategi Supply Chain Management (SCM). SCM sendiri berperan
dalam membantu lini distribusi, teknis, menekan biaya tranportasi, dan
meningkatkan kualitas penanganan wabah sampai ke tingkat yang optimal. Atau dengan
kata lain, SCM beperan sebagai pengoptimalan logistik dari kebutuhan-kebutuhan
yang dibutuhkan dalam penanganan COVID-19 seperti obat-obatan, alat pelindung
diri (APD), masker, makanan, minuman, dan lain lain. Dengan pengoptimalan dalam
proses perancangan logistik tersebut, maka diharapkan pemenuhan kebutuhan dalam
penanganan wabah corona dapat dilakukan dengan optimal baik dari segi
pemasokan, pembuatan (pabrikasi), pengantaran (distribusi), dan juga biaya yang
dikeluarkan dalam prosesnya. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam
perencanaan manajemen rantai pasok tersebut adalah sebagai berikut:
1. Manajemen
permintaan
Manajemen permintaan adalah
metode perencanaan yang digunakan untuk memperkirakan, mengatur dan
merencanakan permintaan produk dan jasa. Manajemen permintaan merupakan suatu
fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk menjamin bahwa penyusun
jadwal induk mengetahui dan menyadari semua permintaan produk itu (Gaspersz,
1998). Informasi yang dibutuhkan dalam penangan corona ini adalah data jumlah
kebutuhan dan permintaan produk dari konsumen di setiap daerah. Dengan begitu
kebutuhan dan jumlah permintaan produk dapat terpenuhi.
2. Perencanaan
kapasitas
Pemerintah melakukan pengelolaan terhadap perencanaan kebutuhan kapasitas dengan melakukan peramalan dan penjadwalan terhadap produk yang dihasilkan yang dibutuhkan dalam penanganan COVID-19.
3. Manajemen
kualitas produk
Pemerintah dapat
menggunakan metode Total Quality
Management (TQM) dalam manajemen kualitas produk. Hal ini dapat membantu
dalam peningkatan kualitas produk, mencegah, mendiagnosa, dan mengatasi
kecacatan produk.
4. Proses
produksi
Pemerintah bekerjasama
dengan pihak terkait dalam mengontrol proses produksi agar dapat berjalan
lancar dan menghasilkan produk berkualitas agar kebutuhan produk dalam
mempercepat penangan corona dapat terpenuhi dengan baik.
5. Penjadwalan
produksi
Penjadwalan produksi
dari produk untuk penangan wabah corona dapat menggunakan konsep optimalisasi
ukuran lot untuk mengurangi ongkos produksi. Hal ini dilakukan dengan cara
mempertimbangkan 3 hal, yaitu biaya yang dikeluarkan, biaya yang diterima, dan
persediaan yang meliputi bahan baku, bahan setengah jadi, dan barang jadi yang
paling besar pengaruhnya terhadap rencana produksi.
6. Pengukuran
kinerja produksi
Pemerintah menjalin
kerjasama dengan pihak terkait yang dapat membantu dalam penanganan corona di
Indonesia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan produksi alat-alat
terkait yang dibutuhkan. Dengan demikian, hal ini dapat membantu dalam
pemenuhan kebutuhan dan permintaan karena proses dan kapasitas produksi dapat
lebih optimal.
7. Pemasok
bahan baku dan bahan lainnya
Kegiatan produksi
sangat bergantung pada pemenuhan ketersediaan bahan baku agar kegiatan produksi
berjalan lancar dan tidak sampai terhenti karena kurangnya bahan baku yang
tersedia. Salah satu hal yang dapat dilakukan dalam menjamin ketersediaan bahan
baku adalah menjalin kerjasama dengan beberapa pemasok sekaligus, sehingga
dapat mempebesar peluang dalam pemenuhan kebutuhan bahan baku apabila
sewaktu-waktu terjadi lonjakan permintaan.
8. Mekanisme
pemilihan supplier
Adapun pertimbangan
yang dapat digunakan sebagai acuran dalam pemilihan supplier adalah sebagai berikut:
·
Memilih supplier
·
Evaluasi supplier
·
Optimasi supplier
·
Pemesanan dan pembayaran material
9. Pergudangan
produk
Pihak terkait harus
dapat memerhatikan distribusi produk dimasing-masing wilayah lini gudangnya.
Lokasi gudang yang sangat strategis akan lebih memudahkan pendistribusian
produk sehingga kebutuhan dapat terpenuhi dengan baik.
10. Moda transportasi produk
Perencanaan transportasi berguna untuk perancangan sistem transportasi yang bertujuan untuk pendistribusian produk ke berbagai daerah di Indonesia. Pemilihan moda transportasi yang sesuai sangat penting karena hal ini berkaitan dengan efisiensi pergerakan, ruang di wilayah tertentu agar dapat mencapai dan memenuhi kebutuhan dan permintaan di suatu wilayah tertentu.
https://nasional.kompas.com/read/2021/01/11/16510011/update-11-januari-kasus-aktif-covid-19-di-indonesia-capai-123636
https://www.beritasatu.com/berita-grafik/718767/data-kasus-aktif-covid19-sampai-11-januari-2021


